Selasa, 16 Juni 2009

Toto Chan, Gadis kecil di Jendela

 Mengisahkan tentang seorang gadis kecil yang karena keingintahuannya yang sangat besar ia justru dianggap aneh oleh para guru tempat ia belajar. Toto Chan, nama gadis cilik itu. Akhirnya karena keingintahuannya yang besar akan sesuatu yang kemudian membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Tapi ibu Toto Chan tak pernah menyerah dengan kondisi itu. Hal ini yang kemudian mengantarkan si kecil di sebuah sekolah yang sebelumnya belum pernah dia bayangkan.
 Pak Kobayashi, kepala sekolahnya mendesain sekolah itu bukan seperti sekolah yang kebanyakan. Bayangkan, jika bisaanya siswa terkurung dalam sebuah ruangan berbentuk segi empat dengan banyak aturan hal ini tidak berlaku di sekolah tersebut. Tempat yang digunakan untuk belajar adalah sebuah gerbong bekas kereta api. Benar-benar sebuah gerbong. Hal ini tentu saja tak pernah dibayangkan oleh siapapun. Begitu pula dengan si kecil Toto Chan. Saat ia menginjakkan kaki di sekolah tersebut, bermacam pertanyaan sudah menyeruak di benaknya dan saling berdesakan ingin keluar. Ia begitu menyukai Pak Kobayashi. Karena hanya beliau satu-satunya orang dewasa selain ibunya yang mau melayani setiap celoteh dan pertanyaannya. Hal ini yang membuat Toto Chan merasa betah di sekolah itu.
 Akhirnya telah diputuskan, Gadis kecil Toto akan melanjutkan sekolahnya di tempat tersebut. Baginya setiap pelajaran adalah saat yang paling dia tunggu. Di sekolah yang baru, tak ada aturan yang mengharuskan siswa hanya duduk diam. Mereka bebas berlarian di dalam ruangan. Bahkan setiap siswa berhak untuk memilih mata pelajaran apa yang pertama kali akan dia pelajari pada hari itu. Jadi setiap siswa akan merasa menerima pelajaran itu bukanlah beban tapi suatu hal yang menyenangkan. Siswa juga bebas bermain tanpa harus takut bajunya akan rusak, kotor dan sebagainya…. Karena saat bersekolah siswa diperbolehkan untuk mengenakan pakaian harian mereka, tak perlu bagus yang penting siswa bisa belajar dan bermain sepuasnya. Hmmmm…. Pastinya menyenangkan ya…?
 Bagi Toto Chan, saat yang paling menyenangkan adalah ketika tiba saat makan siang. Pada saat itu, setiap siswa diminta untuk membawa bekal sesuai yang diminta pada hari sebelumnya. Misalnya lauknya berasal dari laut, maka Toto chan dapat membawa apapun buatan ibunya yang berasal dari laut. Begitu pula ketika diminta untuk membawa lauk dari hasil pertanian, maka Toto chan dan teman-temannya dapat membawa bermacam-macam sayur hasil racikan ibu mereka. Satu hal yang paling penting adalah setiap siswa yang ada di sana akan mendapatkan pelajaran langsung dari sumbernya. Seperti saat mempelajari tentang pertanian, Toto chan dan kawan-kawannya belajar langsung dari petani yang kemudian dipanggil dengan sebutan suhu. Artinya, siapapun dia selama bisa memberikan ilmu dan pengalaman maka akan menjadi guru bagi mereka. Termasuk petani yang mengajarkan cara bercocok tanam pada Toto chan dan kawan-kawannya.
 Namun sayang, Toto chan dan teman-temannya tidak pernah menyelesaikan sekolahnya disana. Sekolah itu hancur… Tetapi apa yang sudah diajarkan di sana membekas dalam benak Toto dan yang lainnya. Kenangan yang membuat Toto chan mempersembahkan karya ini kepada Pak Kobayashi, kepala sekolahnya tercinta.
 Perjalanan Toto Chan yang diceritakan di kisah ini adalah pengalaman pribadinya saat ia kecil. Kisah yang kemudian membuatku ingin bisa seperti Pak Kobayashi yang bisa mengabdikan dirinya untuk anak-anak. Memang kisah yang saya tuturkan diatas hanya sepenggalan saja. Banyak hal yang bisa dipetik hikmahnya. Sungguh tidak mungkin saya menceritakan semuanya kembali, karena saya yakin Toto chan dan kisahnya akan memberi makna yang berbeda-beda bagi siapa saja yang membacanya. Tanpa bermaksud menggurui tapi kisah ini memang member saya pandangan baru, bahwa sekolah bukan hanya tempat anak untuk belajar tapi juga bermain. Tempat yang akan membuat mereka selalu kembali dan bukan tempat yang menakutkan sehingga mereka akan takut untuk belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar